Kemandirian Pangan Asal Ternak Berbasis Pengembangan Industri Ayam Asli Dan Ayam Lokal Indonesia

KEMANDIRIAN PANGAN ASAL TERNAK BERBASIS PENGEMBANGAN INDUSTRI AYAM ASLI DAN AYAM LOKAL INDONESIA

Oleh Niken Ulupi


Ternak merupakan aset yang sangat berharga bagi pembangunan pertanian nasional. Peternakan menjadi sumber pekerjaan di pedesaan dan di wilayah urban tidak kurang dari 4,5 juta peternak (Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2021). Subsektor Peternakan berkontribusi signifikan terhadap nilai pendapatan dari pembangunan pertanian nasional serta menjadi landasan penting dalam membangun kemandirian pangan. Pangan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi bagi setiap orang. Meninjau kondisi di Indonesia, jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan pesat menjadi faktor pendorong langsung kebutuhan protein hewani yang besar dan terus meningkat. Sumber protein hewani dapat dipenuhi dari ternak sapi, kerbau, kambing, domba, babi dan unggas, yang berupa daging, telur, susu serta hasil olahannya. Lebih dari 80% kebutuhan daging secara nasional dipenuhi dari ternak unggas, terutama ayam ras. Peran ayam asli dan ayam lokal dalam pemenuhan daging secara nasional baru mencapai 10.63%. Sumbangan ayam asli / lokal terhadap permintaan telur secara nasional juga masih sangat kecil. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya nilai importasi terutama bibit dan pakannya. Disisi lain Indonesia memiliki sumber daya genetik yang berupa rumpun ayam asli dan ayam lokal dengan keragaman genetik yang besar dan dengan keunggulan yang banyak. Sampai saat ini ayam asli dan ayam lokal secara turun temurun dipelihara masyarakat secara ekstensif. Hasil penelitian terkini membuktikan bahwa ayam asli dan ayam lokal Indonesia mempunyai kemampuan hidup pada suhu tinggi di daerah tropis, berpotensi dikembangkan pada lahan marjinal (lahan gambut sekunder) yang belum termanfaatkan (Deni Fitra et al. 2021) dengan pakan marjinal dan lingkungan yang tidak hygiene, tetapi keberadaan ayam tersebut tetap exist, dan tetap mengalami peningkatan populasi, meskipun tidak tinggi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa rumpun ayam yang ada di Indonesia memiliki keunggulan. Secara genetik, gen HSP-70 yang mengontrol kemampuan beradaptasi pada lingkungan panas (Tamzil et al. 2013), gen pengontrol penyakit antara lain gen TLR4 yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap penyakit infeksi bakteri (Ulupi et al. 2013, 2014b dan 2014c) dan gen Mx, yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap infeksi virus (Pagalla et al. 2013) serta gen SCD yang mengontrol perlemakan daging, dapat berekspresi lebih tinggi pada ayam asli dan ayam lokal Indonesia dibandingkan dengan ayam ras petelur maupun pedaging (Furqon et al. 2017). Dengan demikian ayam asli dan ayam lokal Indonesia mempunyai fenotipik yang tahan pada lingkungan panas, tahan penyakit infeksi bakteri maupun infeksi virus, dan menghasilkan daging dengan kadar lemak intramuskuler lebih tinggi, dengan cita rasa khas, namun lebih sehat, karena kandungan kolesterol dan malonaldehide (Aryanti et al. 2017) yang lebih rendah daripada daging yang dihasilkan ayam ras. Keunggulan tersebut tidak gratis, tetapi memerlukan lebih banyak energi dan nutrisi dari pakan untuk pengaturannya. Sebagai akibatnya laju pertumbuhan ayam asli dan ayam lokal Indonesia lebih rendah daripada ayam ras. Agar dapat berperan sebagai penghasil daging, ayam-ayam ini dapat disilangkan dengan broiler parent stock, sehingga meningkatkan kecepatan pertumbuhannya, seperti ayam lokal IPB-D1 yang merupakan rumpun baru hasil rintisan Prof Dr Ir Cece Sumantri, MSc bersama tim, yang sekarang merupakan rumpun ayam yang sudah dilepas oleh Kementan RI dengan SK No. 693/Kpts/PK.230/M/9/2019. Hasil penelitian membuktikan bahwa ayam IPB-D1 saat dipanen pada umur 12 minggu mempunyai capaian bobot hidup menyamai ayam broiler umur 5 minggu (sekitar 1.5 kg/ekor). Ayam IPB-D1 mampu beradaptasi pada lingkungan tropis, serta mempunyai potensi ketahanan terhadap penyakit infeksi yang tidak berbeda dengan ayam-ayam asli tetuanya yaitu pelung, sentul dan kampung (Ulupi et al. 2016). Peningkatan produktivitas dapat juga dilakukan melalui program seleksi, seperti yang dilakukan untuk menghasilkan ayam KUB dan Sensi 1 Agrinak. Ayam KUB mampu menghasilkan telur 160-180 butir/ekor/tahun. Ayam sentul terseleksi (sensi) 1 Agrinak dengan pertumbuhan yang cepat, bisa dipanen pada umur 10 minggu dengan capaian bobot badan sekitar 900 g/ekor. Pengembangan ayam asli dan ayam lokal ini tidak cukup hanya diserahkan kepada masyarakat yang sampai saat ini masih secara tradisional, tetapi perlu ditangani secara industri, dengan prioritas utama peningkatan populasi. Industri dan perguruan tinggi / lembaga penelitian secara sinergi dapat berperan terutama sebagai breeder untuk menghasilkan dan menyediakan bibit ayam lokal berkualitas bagi masyarakat peternak. Selain industri, lembaga penelitian dan perguruan tinggi, untuk dapat mewujudkan kemandirian pangan asal ternak berbasis pengembangan ayam asli dan ayam lokal ini perlu didukung oleh banyak pihak, terutama dalam penyediaan bahan baku pakannya serta pemerintah dengan regulasi yang menjamin perlindungan pada semua pihak yang terlibat. Semoga dengan terintegrasinya semua pihak dapat meningkatkan peranan ayam asli dan ayam lokal lebih besar dari yang sekarang.


Referensi:

  • Aryanti R, Ulupi N, Suryati T, Arifiantini I. 2017. Performa produksi dan reproduksi Ayam sentul dengan konsentrasi IgY berbeda dalam serum darah. J Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan. 5(3):89-93)
  • Deni Fitra, Niken Ulupi, Irma Isnafia Arief, Luki Abdullah. 2021. Physiological conditions, performance and meat quality of kampung chicken on free range system in peatland, Livestock Research for Rural Development. 33(8)
  • Furqon A, Gunawan A, Ulupi N, Suryati T, Sumantri C. 2017. Expression and association of SCD gene polymorphisms and fatty acid composition in chicken cross. Media Peternakan. 40(3):151-157.
  • Pagalla MA, Muladno, Sumantri C, Murtini S. 2013. Association of Mx gene genotype with antiviral and production traits in tolaki chicken. Int. J of Poult Sci. 12(8):735-739
  • Tamzil MH, Noor RR, Hardjosworo PS, Manalu W, Sumantri C. 2013. Acute heat stress of 3 lines of chickens with different HSP-70 genotypes. Int. J of Poult Sci. 12(8):264-272
  • Ulupi N, Muladno, Sumantri C, Wibawan IWT. 2013. Association of TLR4 gene genotype and resistance against Salmonella enteritidis natural chicken infection in kampung chicken. Int. J Poult of Sci. 12(8):445-450
  • Ulupi N, Muladno, Sumantri C, Wibawan IWT. 2014b. Resistance against Salmonella enteritidis natural infection and production aspect on kampung chicken and commercial laying hen. Proceeding of the 16th AAAP Animal Science Congress. Yogyakarta.
  • Ulupi N, Muladno, Sumantri C, Wibawan IWT. 2014c. Study of kampung chicken resistance against Salmonella enteritidis using TLR4 as marker. Int. J of Poult Sci. 13(8):467-472. Ulupi N, Sumantri C, Darwati S. 2016. Resistance against Salmonella pullorun in IPB-D1 crossbreed, kampong and commercial broiler chicken. Proceeding of the 1st ConferenceTecnology on Biosciences and Social Sciences. Padang 17 November 2016.


General Apply

You're in the right place! Just drop us your cv. How can we help?

Validation error occured. Please enter the fields and submit it again.
Thank You ! Your email has been delivered.